Uncategorized

Bukan Puisi III

Semakin larut malam menghantam, semakin mesra membara api cinta kita. Sekujur tubuhku bungkam atas nikmatnya kasih sayang kau berikan, semakin larut semakin panas yang kurasakan. Semakin larut, wajahku semakin panas, tubuhku merona, wajahmu memerah. Sekujur tubuhku terlukis semua akan perbuatanmu. Awalnya kau menarik lembut helaian rambut ku, mengelus tungkai leherku, mencium bibirku, mengelusnya, membelainya, mewarnainya… Continue reading Bukan Puisi III

Uncategorized

22 November 2021

Hai lelaki yang sangat mencintai kekasihnyaApa kabar kamu sekarangSekian lama menelantarkan rasa suka ku, kini kau muncul hanya untuk mencabik rasa kuTernyata menulis kata tentang mu itu menyenangkanAlangkah lebih baik melihat mu menikahDibalut jas hitam dan wajah lucu mu akan selalu membingkai di hatikuJadi, bagaimana? Apakah mendua itu indah?Apakah kita akan selalu diambang rasa cinta… Continue reading 22 November 2021

Uncategorized

22 November 2021

baru saja ku kembali dari masa lalusemua yang dari awal aku ucapkan adalah cinta itu bohongku mulai mendusta atas nama birahisekarang ku mulai menikmati nafsuhari ini ku mulai merayubarusan ku melemparkan rayuan manistiba-tiba ku menarik dirimenjauh agar tak terjamahagar tidak lagi sakitagar semua rasa pedih dalam hati menghilanglalu mau ku apa sebenarnyaaku mulai merasakan kenikmatan… Continue reading 22 November 2021

Uncategorized

Mendua

Mengapa kau mendua? Bukankah dia lebih menyenangkan. Senyumnya yang anggun. Wajah yang cantik, manis, jelita. Suara yang lembut, halus tak terbantahkan Rayuan gelap malam yang selalu kau untai untuknya Ajak bercinta dikala senja mengetuk jendala. Setiap jengkal tubuh indahnya sudah kau miliki. Pernahkah kau jengkel atas tingkah menyebalkanmu itu? Berusaha mendua, sedang dia berjuang. Dia… Continue reading Mendua

Uncategorized

Bukan Puisi II

Masih tergiang segala makian dan umpatan kasar yang mengalir deras dari mulut lelaki itu. Tubuhku masih menggigil keras, keringat membasahi tubuhku. Tidurku yang tidak nyenyak, mimpiku adalah dia yang dengan kasarnya menarik bajuku. Menyenderkanku di tembok, menampar kepalaku dari belakang, cacian yang masih terasa nyata... "Kau sukakan seperti ini, menungging, dijilat, ditampar, bahkan dipaksa seperti… Continue reading Bukan Puisi II

Uncategorized

Bunuh

Diriku, saya letih menjadi arang dalam hujan Tak mudah memantik api meski sudah berusaha Berteduh bukan lagi keinginan Basah menjadi tameng air mata Tertawa meski menderita Menangis hanya ingin menutupi kesedihan yang sebenarnya Mudah untuk berbicara mengenai hidup yang indah Mengatakan, berusahalah Semua akan indah pada waktunya Namun, benarkah itu? Sedari tadi angin berhembus, tapi… Continue reading Bunuh