Uncategorized

Mendua

Mengapa kau mendua?

Bukankah dia lebih menyenangkan.

Senyumnya yang anggun.

Wajah yang cantik, manis, jelita.

Suara yang lembut, halus tak terbantahkan

Rayuan gelap malam yang selalu kau untai untuknya

Ajak bercinta dikala senja mengetuk jendala.

Setiap jengkal tubuh indahnya sudah kau miliki.

Pernahkah kau jengkel atas tingkah menyebalkanmu itu?

Berusaha mendua, sedang dia berjuang.

Dia berjuang untuk menjadi satu-satunya milik mu.

Pernah terbayang di kepala mu bahwa akan terasa menyakitkan jika dulu bapak demikian.

Menduakan ibu yang sedang cinta-cintanya.

Cobalah sekarang berpikir dengan waras, tetapkan dia jadi satu-satunya.

Jika tidak,

jangan terlalu lama menyakiti diri sendiri.

Cinta tak akan bosan, cinta akan mencari akal untuk selalu bercinta,

cinta mendua hanya jika memang kau buta, hati mu busuk.

Belajarlah menjadi cinta yang memang suci, seperti putihnya awan, saat birunya langit.

Jika kau ingin mendua janganlah kau lanjut, berhenti.

Lepaskan semuanya,

jangan memilih

Biarkan hatimu sendiri, agar kau tahu siapa yang seharusnya kau buat satu-satunya, saat kau sudah jadi satu-satunya bagi dia.

Leave a comment