Uncategorized

Bukan Puisi III

Semakin larut malam menghantam, semakin mesra membara api cinta kita. Sekujur tubuhku bungkam atas nikmatnya kasih sayang kau berikan, semakin larut semakin panas yang kurasakan. Semakin larut, wajahku semakin panas, tubuhku merona, wajahmu memerah. Sekujur tubuhku terlukis semua akan perbuatanmu.

Awalnya kau menarik lembut helaian rambut ku, mengelus tungkai leherku, mencium bibirku, mengelusnya, membelainya, mewarnainya dengan janji manisnya.

Bagaimana ini?

Awalnya memang terasa manis, semuanya lembut, semuanya seakan melampaui batas-batas tak tergapai.

Bagaimana ini?

Kini semakin sakit, kepalaku hampir pecah, darah dimana-mana. Bibirku lebam, gusiku pecah.

Sayang, jangan lagi. Ini sangat sakit, bagaimana aku? Ini sangat sakit, aku sakit. Bantu aku, dadaku sesak. Sayang…

Mengapa genggaman tanganmu tak lagi di tungkai leherku? Mengapa kini dia menarik keras rambutku, kepalaku hampir botak, sepertinya keluar darah.

Yang, ini sakit. Aku sakit, ini perih. Mataku buram.

Bibirku bengkak, sayang, lepaskan jemariku. Kelingkingku hampir putus.

Oh sayang, bagiamana ini? Ini sangat sakit, perutku sakit, bagaimana ini? Tinjumu sangat sakit, aku sakit. Ini tidak seperti dirimu yang biasanya.

Yang kutahu, sayang hanya akan menamparku dan mencubit pipi ku saat aku mulai khilaf.

Bagaimana ini?

Aku sudah menuruti maumu, semua kuberikan. Bahkan nyawa juga akan kuberikan, tapi tidak bisakah kita bercinta dengan mesra seperti semula? Mengapa semua menjadi salah? Apakah selangkanganku tak lagi menarik seperti kemarin? Aku bisa berikan anusku. Bahkan mulutku menerima tinjamu? Bagaimana ini?!

Aku bisa gila sayang, aku bisa gila. Ku mohon, aku tidak bercanda. Aku gila sayang, aku sungguh gila. Ku mohon, aku mencintaimu. Aku rela memakan seonggok tahi kuda jika itu maumu, tapi jangan tinggalkan aku.

Mari mari, kembali pukuli aku. Aku rela semua ini remuk, asalkan kau bersamaku. Aku rela, jangan pergi, bangsat!?

Sayang, sayangku, sayangku, sayangku yang manis. Maaf sayang, silahkan lagi kau caci tubuhku, bungkam dengan tamparan kerasmu, aku rela. Jangan pergi, aku belum siap. Sayang, jangan.

Yang, sayangku, sayangnya sayangku yang tersayang. Aku memang rendah, aku pelacur, aku hina, jadi tak apa, hancurkan saja aku, aku rela, asalkan jangan kau pergi, aku sayang kau, ini sayangku, ayo sayang, pukuli aku.

Aku tak sakit, awal paragraf hanya khayalan, aku tak masalah, asalkan kau tetap sayang ku aku rela, tubuh, jiwa, dan ragaku mengabdi akan dirimu. Kau permata, bulan, bintang, matahari, siang, pagi, senja, bahkan malamku.

Aku binatang, ikat saja leherku, pasung saja kakiku, tapi tetap belai aku. Tetap sentuh aku, tetap setubuhi jiwa ku. Aku budak mu, aku budak cintamu.

Oh sayangku, aku mau, aku mau, aku akan selalu mau, ku mohon sayangku.

Leave a comment