Masih tergiang segala makian dan umpatan kasar yang mengalir deras dari mulut lelaki itu. Tubuhku masih menggigil keras, keringat membasahi tubuhku. Tidurku yang tidak nyenyak, mimpiku adalah dia yang dengan kasarnya menarik bajuku. Menyenderkanku di tembok, menampar kepalaku dari belakang, cacian yang masih terasa nyata…
“Kau sukakan seperti ini, menungging, dijilat, ditampar, bahkan dipaksa seperti ini.” Teriaknya begitu keras.
Ternyata bukan mimpi.
Suara yang tak mampu ku keluarkan, darah yang keluar dari sudut bibirku terasa sangat amis. Dia menjambak rambutku, menarik paksa celanaku, membanting keras tubuhku ke tembok. Cacian tak kunjung reda.
“Anjing kau memang. Tai kau!”
“Anak babi.”
“Bencong.”
“Kurang ajar.”
Tak puas dengan tamparan, dia menjatuhkan tubuhku ke lantai yang dingin.
Mencabik baju kusam yang sudah mulai robek, dia menarik paksa, dan menghadangku dengan tendangan sepatu kulitnya.
Tangisku mulai terasa sakit, teriakan ku mulai membabi buta. Mataku mulai berkabut, gigiku tanggal satu, celanaku sudah tanggal.
Dia semakin menggila.
Dia menginjak punggungku dengan sepatunya berlumur tanah dari pekarangan rumah.
Dia meludah dua kali tepat di dekat telinga ku.
Perutku sakitnya bukan main.
Kepalaku berdengung keras.
Air mataku tak mau kering.
Mulutku tak mau diam. Tangisanku semakin pilu diantara semua makiannya.
Dia sebut aku binatang.
Dia membungkam mulutku dengan telapak sepatunya, tercium jelas bau amis darah dan bau tanah.
Aku sesak, tanganku bergetar.
Dia membalik badanku. Menginjak kepalaku.
Dia menarik lepas tali pinggang kulitnya. Aku dicambuk lagi.
Aku sakit, aku kesakitan. Ini sangat sakit.
Aku terasa mau mati.
Sungguh ini sakit.
Pantatku. Betisku.
Dia menjambakku lagi. Memaki.
Dia terdiam.
Lalu pergi.
Darah dimana-mana.
Badanku tak mau bergerak.
Ini terasa sangat sakit.
Aku kesakitan.
Fisikku luka, hatiku luka.
Ayahku..
Senang sekali memukuliku.
Menyiksaku bahkan meniduriku.
Ini adalah kesekian kali dalam dua hari ini, bahkan memar kemarin sore belum hilang sudah lagi ditambah.
Aku ingin kabur.
Tapi bagaimana.
Aku diikat.
Aku ingin lepas.
Bagaimana?
Aku takut.
Rantainya tak bisa putus.
Aku mau mati, tak diizinkan.
Aku mau mati, tak digubris.
Aku takut.
Ini sakit.
Aku takut.
Ini gila.
Atau…
Memang aku yang gila…
Aku benci ayahku.
Aku anak lelakinya, aku putranya.
Aku anaknya.
Aku darah dagingnya.
Aku benci.
Aku marah.
Aku, aku…
Aku mau mati saja.
Aku benci.