Rasanya, kau tahu, seperti melihat kembali lembaran buku yang sudah aku pernah baca. Setiap halaman, kalimat, tanda baca—aku baca ulang, tapi tidak lagi dengan rasa seperti pertama kali aku membacanya. Semuanya ada disana, pola, kalimat yang sama, isi yang sama— namun tidak dengan perasaan yang sama. Aku tahu siapa dia, karakter yang dia mainkan, cerita… Continue reading Buku itu.
Category: Memoar Patah Hati
Kemarin
Dalam hubungan kemarin, bukan berarti aku yang paling berperan dalam segala halnya. Mungkin karena aku pernah menolak dan mengabaikan bahwa dia juga banyak peran disana namun bukan peran yang aku inginkan. Kami adalah dua manusia yang bertolak belakang, yang memang tidak ditakdirkan untuk disatukan dalam hubungan kemarin. Jadi, mengapa perpisahan ini membuatku marah dan sedih?… Continue reading Kemarin
Untukmu:
—karena kadang, tersesat adalah cara terbaik untuk menemukan jalan pulang ke dirimu sendiri. Terima kasih atas penantian dan perjuangan, kau layak mendapatkan dirimu sendiri. Kau dapat mencari sejauh apapun, berjalan sampai kakimu goyah, berlari sampai lututmu cedera. Kau bebas, tidak berbeban berat. Kau layak, kau hebat karena kau memang pantas. Kekuatan tidak datang dengan tiba-tiba,… Continue reading Untukmu: