Dalam hubungan kemarin, bukan berarti aku yang paling berperan dalam segala halnya. Mungkin karena aku pernah menolak dan mengabaikan bahwa dia juga banyak peran disana namun bukan peran yang aku inginkan.
Kami adalah dua manusia yang bertolak belakang, yang memang tidak ditakdirkan untuk disatukan dalam hubungan kemarin.
Jadi, mengapa perpisahan ini membuatku marah dan sedih? Karena skenario yang aku tulis… tidak berjalan sesuai rencana.
Dia bukan pemeran utama yang aku maksud, tapi karena hanya dia yang hadir saat itu, maka aku memilihnya.
Mungkin itu salahku.
Tapi karena cerita ini sudah sampai di akhir, kini saatnya aku menulis kisah baru—tanpa naskah, namun bukan sekadar fiksi dalam angan.
Aku akan meletakkan pensil dan buku kepada jalan takdir.
Bukan karena aku menyerah, tapi karena aku lelah harus terus memikirkan siapa, di mana, kapan, mengapa, untuk apa. Aku lelah harus terus menyusun naskah yang sempurna.
Masih banyak yang harus aku selesaikan, terutama jiwaku yang perlahan mulai selaras dengan hatiku.
Aku bukan menutup jalan, aku hanya berpasrah dan tidak ingin mencoba sok tahu lagi untuk memaksa yang bukan inginku menjadi milikku.
Aku tidak sedang menyangkal, aku hanya sedang mencari… akhir yang layak untuk kisah cintaku yang berikutnya.