Memoar Patah Hati

Buku itu.

Rasanya, kau tahu, seperti melihat kembali lembaran buku yang sudah aku pernah baca. Setiap halaman, kalimat, tanda baca—aku baca ulang, tapi tidak lagi dengan rasa seperti pertama kali aku membacanya.

Semuanya ada disana, pola, kalimat yang sama, isi yang sama— namun tidak dengan perasaan yang sama.

Aku tahu siapa dia, karakter yang dia mainkan, cerita yang dia lafalkan, dan bahkan akhir yang sangat aku sudah hafal juga.

Dulu, aku merasa sakit saat pertama kali membacanya. Duniaku runtuh, namun sekarang semuanya berbeda, tidak ada lagi riak kepedihan dan amarah. Hanya alur yang mengalir bagaikan arus sungai. Tidak ada yang menghalangi lagi.

Aku tidak tahu bahwa akhir ceritanya begitu tragis, tapi setidaknya sudah berakhir.

Tidak ada lagi derai air mata dan kesakitan sebelah pihak. Tidak ada lagi usaha memahami emosi yang tidak stabil, akhirnya aku menutup buku itu. Aku menempatkannya di rak paling dalam, sepertinya aku tidak akan membacanya lagi.

Penulisnya sudah tiada dan ceritanya tidak layak mendapatkan penghargaan dan season ke dua.

Leave a comment