Sepertinya, kau memang bodoh. Tercipta dari lempengan kebodohan oleh kedua orang tuamu. Kau sungguh bodoh, bisa punya otak yang tak berguna, punya harga diri serendah dengkulmu. Kau sungguh sangat bodoh dan egois, jadi benar katamu, kau adalah manusia bodoh dan tolol, tidak punya harapan hidup. Kau makan saja semua uang yang telah kau punya, kau pikir semua orang akan melihatmu agung? Mereka meludahimu, bodoh!!!
Lalu, sekarang kau merasa sedang berbahagia? Tidak, kau tolol, kau sudah mati rasa, dan tidak bisa lagi merasakan apa itu hidup dalam damai dan nyaman, hatimu itu bagaikan bangkai manusia yang seharusnya dikubur dalam-dalam agar orang lain tidak bisa mencium bau busukmu itu.
Kau bodoh, tapi masih bisa hidup di dunia ini dengan serampangan. Pikirmu dunia sedang berpihak padamu? Tidak, semesta muak akan kejahatan dirimu, bahkan aku yang tidak mau merasakan duniamu saja, merasakan najis di dalam diriku atas kebodohanmu.
Kau mati saja aku tidak peduli. Akan tiba saatnya kau mengemis seperti tahi, aku akan meminta seluruh dunia mengasihimu, sayangnya kau sampah yang harus diasingkan dan dibuang.
Kau sampah, kau bodoh. Tidak ada jalan yang membuatmu bahagia, kau hanya akan menjadi seonggok tahi tikus yang tidak bisa digunakan jadi kompos sekalipun.
Kau terbuang.
Kau hina.
Kau tidak akan bisa mengerti bahwa dunia terlalu baik padamu yang selalu keji menginjak-injak dunia ini.
Kau dibenci oleh semesta.
Kau tidak layak.
Jadi bersabarlah, karmamu sedang menuju rumahmu.
Seisinya akan porak poranda, kau akan menangis darah.
Selamat datang di dunia yang penuh kepalsuan ini.