Lakinya bodoh

Penyesalan yang Kau Peluk

Dia mulai sadar, tidak ada yang benar-benar nyata di matanya. Ternyata, menjadikan kepalsuan untuk memperkuat hati itu adalah palsu. Kau mulai merasuki tubuh yang seharusnya kau tinggal, bukan kau manfaatkan.

Lalu, satu-satunya pemain yang berdiri adalah bayangan hantu yang menyerupai manusia malang yang tidak bisa memutuskan apa langkah yang layak diambil.

Kau, mulai sadar bahwa luka itu tidak akan sembuh sampai kapanpun. Dia akan menjadi bayangan senja yang menampar pipimu saat kau mulai menikmatinya. Dia akan menjadi api cakrawala yang membakar seluruh jiwa mu, tubuhmu akan selalu utuh, tapi jiwamu terpontang panting seakan-akan tidak akan mungkin sembuh dan kembali utuh.

Setiap langkah yang kau ambil, dia menjadi jejak sakit hati yang kau hias dengan dendammu yang tidak akan pernah terbalaskan. Sayangnya, semua hanya tentang egomu, tidak ada gunanya kau menjadi manusia bodoh lagi. Sudah saatnya kau menjadi jalang yang memohon kepada Tuhan untuk pengampunan atas dosa semesta yang kau lakukan.

Sekarang, semua tumpukan rasa sakit itu kau limpahkan padanya yang tidak bisa lagi merasakan sakit. Dia terlalu kuat untuk kau hantam dengan kepedihan hidupmu, dia sudah merasakan pedih lebih dari itu, jadi tidak ada lagi ruang untuk dirimu sendiri dihidupnya. Sekarang kau hanya menjadi hidangan penutup yang terlalu manis untuk disajikan, orang-orang tidak lagi menatapmu, mereka memalingkan muka. Mereka sekarang hanya mencari pelega dahaga, bukan untuk pemanis mulut.

Kau menangis bukan karna merasa ini terlalu sakit, tapi karna semua sudah terlambat. Dia sudah pergi jauh, kau mengejar dia semakin menjauh, saat dia mendekat kau mengabaikan, lalu dia sudah benar-benar pergi. Hatimu mulai terluka dan tidak akan pernah sembuh sampai kau dapatkan dia. Dia sudah mulai melihatmu, tapi dia sudah bersama bayi mungilnya.

Lelaki di sampingnya lebih indah dari matahari terbenam, lelaki itu sangat anggun. Dia menggenggam tangannya erat, tidak mungkin akan melepasnya. Kau seorang, terdiam, merasa bodoh, tapi penyesalan selalu datang belakangan, sayang. Dia seperti ular yang menggerogoti hidupmu dengan cara yang tidak biasa. Kau mati. Dia diam, kau terdiam, dia sudah berdamai. Sayangnya, kau sudah mati juga.

Dia bahagia, kau masih mengemis untuk dia. Sayangnya, dia sudah buta dan tuli denganmu.

Leave a Reply