Uncategorized

Bukan Puisi IV

Badanku menggelinding pelan di atas kasur tipis yang bau apak. Jingkrak-jingkrak isi hatiku, perutku mulas. Semakin aku berusaha baik-baik saja, terasa semakin sulit bagiku tuk bertahan. Ini salah, tapi aku tidak bisa membunuhnya, ini terasa benar karna cintaku memang sedang membuncah tak ada arah, tak ada arti, tak juga perlu dibalaskan.

Mas, apakah ini memang maumu? Apakah ini memang inginmu? Membunuhku dengan kalimat jahatmu, menikamku dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Apakah menjadi cinta untukmu belum juga cukup? Apakah dengan aku berderai darah sudah membuatmu bahagia?

Aku tidak akan lelah menjadi bodoh jika itu untukmu, aku rela kehilangan diriku demi kau menjadi satu-satunya untukku. Aku rela menghantam tubuhku ke seluruh penjuru dunia untuk mencarimu disela-sela kedewasaanmu yang tidak kunjung datang. Aku bisa mendapatkan semua yang kumau. Tetapi, ragamu tak tersentuh sama sekali.

Kalau memang dari awal aku harus membunuhmu, mengapa kita harus berjalan sejauh ini. Aku lelah, aku sungguh lelah, aku ingin berhenti, tapi bagaimana dengan bangkai badanmu? Sampai kemana aku harus membawamu? Ini sudah jauh, harusnya sudah ada jurang dalam di depan sana, tapi kenapa malam ini semua terasa lebih suram dan gelap.

Aku bertanya, apakah ini maumu? Tapi kau diam, apa karna tubuhmu sudah tidak bernyawa? Harusnya dari awal kau jawab aku dengan sungguh-sungguh, harusnya ini tidak terjadi. Setidaknya, kalaupun terjadi, tidak di tengah malam seperti ini, di jalan yang tak berujung. Kelok yang tajam, kau tahu juga aku tidak bisa menyetir, kenapa kau bodoh, sih?

Aku sudah mandi, tapi aku harus kembali membasuh tubuhku, dari kotoran.

Darah mu yang masih mengalir di sela kerongkonganku, teras nikmat.

Harusnya aku menancapkan pisau itu di lehermu, di nadi yang berdenyut kencang itu. Darahmu sangat manis, terasa amis dan manis. Apakah ini sudah dari dulu?

Kenapa terasa nikmat?

Tapi sayang, aku harus menguburmu.

Bangkaimu sudah tidak berguna, matamu sudah tertutup rapat, ragamu sudah kaku.

Ya sudah, aku pamit.

Semoga di surga kau bertemu dia, dengan kain kafan yang sama. Semoga kalian juga tetap menikah di surga, walau di bumi kali tidak berjodoh.

Dasar, lelaki bodoh.

Leave a comment