Laila…
Mereka memanggilnya Laila, wanita mandiri yang sudah memiliki anak berumur 2 tahun padahal tahun lalu dia masih merayakan ulang tahunnya yang ke 16 tahun. Tak ada yang mengetahui siapa ayah kandung dari buah hatinya itu, bahkan ibunya sendiri masih suka bertanya hingga saat ini.
Laila si wanita yang dahulunya manja, kini hanya tahu memanjakan putri kecilnya. Membelikannya barbie mungil agar ia tak menangis, meskipun tak pernah sekalipun tetangganya mendengar suara tangisan bayinya itu. Suara tangis bayi hanya terdengar saat hari kelahiran putri kecilnya itu.
Sekian lama para tetangga ingin mengetahui bagaimana rupa putri kecilnya itu. Bagaimana bentuk hidungnya, bagaimana putih kulitnya jika terpapar mentari pagi, bagaimana bibirnya – apakah mungil seperti milik ibunya – juga bagaimana suara tangisannya saat tak diberikan susu. Mereka juga seringkali bertanya siapa ayah dari putri kecilnya itu, tapi tak ada satupun yang berani memulai pertanyaan. Pernah sekali, Yuni tetangga teman kecilnya itu bertanya, Yuni malah pulang ke rumah dengan wajah memar dan pakaian yang berantakan. Yuni bahkan tak mau keluar rumah sampai seminggu setelah kejadian itu.
Tetangga tak mendapat kabar apapun dari si Yuni tentang asalmuasal bayi itu.
Sore itu hujan sedang turun tak karuan, namun para tetangga melihat si Laila sedang berdiri termenung di depan rumahya. Kali ini tanpa putri mungilnya. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada wanita yang menyedihkan itu. Apakah kali ini ayahnya mencambuknya atau ibunya sudah mengusirknya karna kegilaannya. Sama seperti sebelumya, hanya ada pertanyaan dalam hati, tak ada yang keluar dari mulut mereka.
Tetangga hanya mengintip dari celah dari setiap rumah mereka. Mungkin mereka bingung atau malah mereka sedang menonton sesuatu yang akan menyenangkan jika diceritakan esok siang dengan ibu-ibu tetangga lainnya.
Sudah dua hari hujan turun di sore hari pada jam yang sama. Laila juga masih sama saja. Berdiri termenung dengan hujan membasahi tubuhnya. Sedangkan bayi yang banyak tetangga bicarakan, masih juga tak terlihat lagi. Yuni yang baru pulang dari warung meliha Laila dengan raut wajah yang sedih, namun Yuni tak juga menyapanya. Dia bergegas berjalan menuju rumahnya.
Seminggu berlalu dengan Laila yang mencintai hujan dan tentunya tetangga sudah menyebarkan berita ke pencuru kampung tentang hal ini. Mereka berkata bahwa bayi Laila sudah meninggal dan dikuburkan di belakang rumah mereka. Selama seminggu itu pula mereka tak melihat si Laila.
Sebulan telah perbincangan tentang Laila dan bayinya yang mereka tidak tahu siapa namanya.
Dua hari setelah sebulan itu, para tetangga mendapat kabar bahwa ditemukannya mayat Laila bersama boneka beruang yang diikat di lehernya di dekat kebun sawi pak RT. Tetangga semakin menggila dengan segala persepsi dan omongan yang masuk akal bagi meraka tentang kematian si Laila. Mereka mulai membeberkan segala macam asumsi bahwa Laila sudah gila menganggap bahwa bayi yang dia kira manusia itu adalah boneka beruang, Laila memang anak yang nakal, suka menjajakan diri pada bapak-bapak tetangga saat tugas ronda malam, Laila anak haram yang memang layak mati seperti itu.
Seminggu sudah kejadian kematian Laila, Laila yang tak dikuburkan dengan layak, dibiarkan teronggok bagaikan sampah di kebun pak RT. Katanya, “Itu kompos alami untuk tanamanku.”
Tak ada kabar lagi tentang apa, bagaimana, mengapa kejadian yang tak ada jawaban ini dapat menimpa Laila yang malang. Tetangga hanya berasumsi tanpa mau tahu. Menyebarkan berita kemana saja sebagai bahan obrolan yang tak ada habisnya saat bertemu teman lama saat arisan, saat di pasar, saat di rumah, bahkan saat di ranjang.
Namun, sekarang mereka menemukan pengganti Laila.
Yuni…
Yuni mulai berkeliling kampung sambil menimang bayi mungilnya bersenandung lembut. Tersenyum lembut dan kadang terdiam, lalu berjalan kembali menuju rumahnya.