Seandainya, jika, mungkin saja memang demikian, tetapi ini tidak benar nyatanya.
Setiap jengkal kenangmu adalah anugrah yang menyedihkan.
Bagaimana tidak, mengingatmu adalah kepedihan dalam memori masa lalu.
Diamku saat itu adalah rasa cinta yang sampai sekarang masih melayang.
Melihatmu dengan buah hatimu membuatku merasakan apa arti kebencian yang sebenarnya.
Bagaimana mungkin kau tersenyum lembut dengan dia di pangkuanmu, dengan aku dari jauh menatapmu dengan penuh dendam.
Kebenaran akan kebencianku tak akan membawa hal baik dalam apapun dalam hidupku.
Namun, kau adalah kekasih yang penuh dengan kelicikan atas nama cinta yang selalu terucap darimu.
Yakinlah sayang, tiap malamku selalu mengingatmu.
Masih banyak dendam yang menumpuk namun, doa ataupun ucapan benci tak kunjung terucap.
Air mata juga enggan mengalir.
Hanya sisa kenangan penuh dengan belati yang selalu menghantuiku dengan segala kau isinya.