Uncategorized

Masa Itu (2013-2016)

Aku mengingat rasanya diabaikan oleh duniaku sendiri, tapi aku adalah si naif yang tidak peduli mengenai hal itu. Aku mengejar masa depanku, menggantungkan harapan ke kertas-kertas yang aku tulis penuh dengan harapan dan keinginan yang tidak pasti. Tidak ada cita-cita, hanya hidup dan bernafas, melangkah dan berlari, mengejar yang tidak aku tahu pasti.

Pagi yang selalu sama, matahari yang terik, tempat duduk angkot yang sama, nomor angkot yang sama, namun orang yang selalu berbeda. Bau pasar di pagi hari, ikan-ikan di pasar dimasukkan dalam tangki transparan. Sepagi itu mereka sudah siap untuk dijajakan.

Para pedagang di pasar, penjual cemilan di depan gerbang kampus, ibu kantin yang berlipstik merah, harum masakan menuju jam istirahat. Kakak kelas yang sudah nongkrong sejak pagi, keripik pedas kesukaan para mahasiswa, lapangan luas, ruangan kelas ber-AC, kolam ikan yang tak pernah aku kunjungi, toilet yang jadi saksi bisu, kaca toilet yang tak pernah kotor, tangga tempat duduk di depan kelas.

Tak jarang duduk di lantai saat senioritas sedang melakukan aktivitas sehari-hari mereka. Bullyan oleh mereka, tertawa hina mereka, berteriak, ku injak pala otak kau. Hehehe bukan hal lucu, tapi saat itu terasa menakutkan, sekarang jadi bahan becandaan.

Ahhhh, rasanya sudah lama sekali. Mungkin sudah sepuluh tahun yang lalu. Hahaha, sungguh sangat disayangkan tapi dirindukan. Aku rindu, tapi tidak ingin kembali.

Ada rasa bahagia, sedih, gelisah, hampa. Aku kadang tertawa, tapi tidak menangis. Kadang ada rasa takut ke kampus, tapi saat bertemu orang dan teman sekelas semuanya menyenangkan. Aku suka.

Ada saat dan waktu aku suka sekali dengan manusia lain, walaupun kadang aku lebih banyak tidak suka. Banyak yang aku lalui, pertemanan yang menyenangkan, gosip baru dari kakak kelas dan teman sebangku, adik kelas, perpisahan, bahkan kehilangan teman.

Aku rindu, dimana aku menikmati semua kesendirianku. Tidak ada niat menjadi terlihat, karna sekalinya terlihat tidak terasa. Masa itu sungguh menyenangkan. Tidak ada duka yang mendalam, hanya kesenangan.

Dunia berputar lebih cepat, sudah sepuluh tahun. Bahkan masih terasa itu kemarin sore.

Manusia, lingkungan, tempat, suasana, dan kedamaian. Semuanya menyenangkan.

Tidak hanya tertawa, kadang juga menyesal dan kecewa.

Tapi, sungguh menyenangkan.

Aku suka.

Aku sungguh rindu.

Aku tidak mau kembali, tapi aku ingin rasanya kembali pada diriku sendiri.

Menerima kenyataan yang tidak akan ada yang abadi, cinta dan kasih sayang akan sirna, tapi manusia akan tetap hidup dalam keadaan apapun.

Aku rindu. Jiwaku yang bebas, tidak membenci, tidak jahat, berpikir keras tapi tidak menyakiti.

Aku ingin damai yang membuatku semakin cinta duniaku.

Aku rindu diriku yang dulu, yang tak bisa dendam dan cinta kepada orang yang sama.

Aku, saat ini, sekarang telah kembali ke masa itu.

Semua yang terjadi, yang menyakiti, yang menyenangkan telah aku tanggalkan.

Tidak ada lagi tempat untuk itu. Sekarang aku damai, berdiam, dan siap melangkah jauh.

Leave a comment