Uncategorized

Dia

Terlalu banyak kenangan yang kalian tanam, setiap detik adalah hembusan napas cinta antara kalian.

Tidak ada yang ingin berakhir, tapi setahuku kau mulai bermain api tanpa peduli cintamu masih utuh padanya.

Semua rasa sayang padamu atas cinta kalian, tak ada yang berani membantah.

Semua kemanisan yang sudah kau kumpulkan terasa pahit sama malam kau termenung.

Tapi, nafsu yang memang mendarah di tubuh mu tak bisa kau elak.

Semua keinginanmu, mengalahkan cinta, kau siap mati untuknya.

Namun, cobalah berdiam sebentar.

Menurutmu , apakah dia layak disakiti olehmu, si lelaki yang pendendam?

Layakkah air matanya menetes untuk semua kenangan kalian?

Lalu, bagaimana pula dengan janji yang terucap, di depan penghulu dan ayah kandungnya?

Bagaimana jika bayi yang sudah kau buang itu akan kembali masuk ke rahimnya, membelai namamu dengan panggilan ayah?

Sanggupkah kau menangkal itu?

Bagaimana jika kalian memang berjodoh, tapi api yang awalnya kecil kini membara, dan tidak adalagi air yang mampu memadamkannya

Bagaimana ini?

Bagaimana kau harus membuat cintanya yang pupus menjadi murni kembali.

Tapi kau, jangan biarkan dia menjadi manusia bodoh atas tingkahmu.

Hargai dia.

Jika memang tidak bisa, berhenti, jangan melangkah.

Cukup.

Karena rasa sakit saat ini masih bisa sembuh, namun rasa sakit besok belum tentu ada penawarnya.

Leave a comment