Uncategorized

Bunuh

Sarang burung di pohon durian belakang rumah sudah tidak ada lagi. Burungnya, tak tahu terbang kemana. Biasanya, dia akan mampir ke teras rumah sambil bersiul dan kakinya yang mungil akan mengais pot bunga mawarku.

Seperti burung yang terbang tak tahu kemana, demikian kau, Ali. Pergi entah kemana, bahkan telepon saja tak bisa memanggilmu.

Bagaimana mungkin kau meninggalkanku, tersingkir seperti ini.

Rinduku bukan rindu biasa. Ini adalah rindu biadab.

Seandainya kau di sini, mungkin belati di dapur sudah menusuk pangkal lehermu itu. Benciku kini berujung menjadi ingin membunuhmu, menikam, dan merobek dada mu.

Seakan doa tak terjawab, kini setahun kita berpisah kau memilih membunuh dirimu.

Penantianku sia-sia, tak bisaku pajang hatimu yang tak berdetak itu di meja riasku. Kepalamu kanjadi pakan anjingku, dan selebihnyaku serahkan pada wanita simpananmu.

Cintaku jadi terbunuh, dibunuh oleh dendam akan penolakan. Seandainya kau mau menjadi pasanganku, takkanku biarkan yang lain membunuhmu.

5 Mei 2020

Leave a comment